Jumat, 09 November 2012

Peci Hitam Pertama Bung Karno




Sudah tidak asing lagi bagi kita warga Indonesia tentang peci hitam. Saat ini peci hitam di Indonesia sudah banyak di gunakan oleh berbagai kalangan, mulai dari petani, rakyat jelata bahkan pejabat Negara, dan tak ketinggalan pulaanak yang sedang sunat (khitan) juga mengunakan peci, serta orang
yang sedang melaksanakan akan nikah,,,,,
 
Tapi tau kah kita sebenarnya siapa yang mempopulerkan peci hitam itu sendiri, sampai-sampai peci hitam menjadi identitas warga Indonesia dimanapun berada….
Yang pertama menggunakan peci hitam adalah Tjipto Mangunkusumo. Pada tahun 1913 diadakan  rapat SDAP (Sociaal Democratische Arbeiders Partij) di Den Haag mengundang tiga politisi, yaitu Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, dan Ki Hajar Dewantara. Ketiganya menunjukkan identitas masing-masing. Ki Hajar menggunakan topi fez Turki berwarna merah yang kala itu populer di kalangan nasionalis. Tjipto mengenakan kopiah dari beludru hitam. Sedangkan Douwes Dekker tak memakai penutup kepala.

Peci ini sendiri diperkenalkan oleh pedagang Arab di sekitar Kepulauan Malaya sekitar abad ke-13. Orang Melayu di Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan selatan Thailand menyebutnya songkok namun kebanyakan orang Indonesia menyebutnya peci.

Baru tau ya,,,,,? admin juga baru tau nie….. oke kita lanjutkan.
Lalu sejak kapan bung karno memakai peci hitam?
Pada tahun 1921 diperkirakan bung karno berumur 20 tahun. pada Saat itu beliau menghadiri rapat Jong Java di Surabaya. Keraguan sempat menghampiri Bung Karno saat akan memasuki ruang rapat pertama kalinya dengan peci hitam di kepala. Namun dengan menekadkan diri bahwa dirinya adalah pemimpin bukan pengekor. Maka masuklah Bung Karno ke ruang rapat.

Semua yang rapat terdiam sunyi, namun Bung Karno memecah kesunyian dengan mengatakan : ”…Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia". Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka.”.

Sejak saat itu Bung Karno selalu memakai peci ke manapun beliau pergi di depan publik kemudian menjadi simbol nasionalisme, yang mempengaruhi cara berpakaian kalangan intelektual, termasuk pemuda Kristen.
Pada masa penjajahan Setelah bung karno dibuang bertahun-tahun di Ende, Flores, lalu ke Bengkulu, lalu melanglang keliling Sumatera dan akhirnya terdampar di Palembang. Pada saat berada di Sumatra
Bung karno melalukan perjalanan ke beberapa propinsi dengan mengendarai dokar, hal itu dikerenakan agar bebas dari gangguan dari tentara Jepang, yang sedang menderita kekalahan oleh pihak Sekutu.
Dari Bengkulu melalui jalan darat menuju kota Painan (kota pesisir kearah tenggara Padang), lalu ke Bukittingi dan berkeliling ke Payakumbuh dan akhirnya menemui sahabatnya, yang juga memimpin sebuah pesantren terkenal, Darul Funun al Abbasiyah, di desa Padang Japang, Guguk, Kabupaten Lima Puluh Koto, Sumatera Barat. 

Kala itu Soekarno bukan siapa-siapa dan belum menjadi presiden. “Kamu harus berhati-hati terhadap kaum komunis dan sekuler yang akan menghancurkan bangsa ini”, kata pemimpin pesantren sambil menatap Soekarno yang sedang membetulkan sebuah peci hitam tinggi. Peci tersebut memang baru saja diberikan oleh Syech Abbas Abdullah, pemimpin pesantren itu ketika melihat penampilan Soekarno kurang oke dengan peci lamanya yang lebih pendek. 
Peci itu memang pas dan serasi dengan visual wajah Soekarno. Pas margopas!. 
Peci lamanya mana?... Di tinggal di pesantren Syech Abbas Abdullah, yang juga menyarankan agar kelak Indonesia merdeka dan Soekarno menjadi pemimpinnya, Indonesia harus berdasarkan ketuhanan. “Peci ini kuberikan supaya kamu menyadari bahwa bangsa Indonesia ini mayoritas umat Islam”, ujar sang syech kepada calon pemimpin bangsa terbesar umat Islamnya di jagat. Lengkap dan pantas sudah penampilan baru Soekarno. 

Songkok Hitam Pasca Orde Lama

Memasuki masa Orde baru, Rezim Seoharto berusaha untuk menghapus berbagai sesuatu yang berbau orde lama, segala hal yang ada hubungannya dengan orde lama (terutama berhubungan dengan Seokarno). Namun ternyata, tradisi Songkok hitam yang jelas-jelas sangat identik dengan Seokarno tidak ikut dihapuskan, mungkin karena sudah terlalu memasyarakat (atau mungkin karena tak terlalu mengingatkan rakyat pada euforia orde lama). Sehingga di masa Orde barupun, “tradisi memakai songkok hitam” tetap lestari.

Songkok hitam, nasibmu kini

Sungguh sangat memprihatinkan, ternyata di jaman sekarang ini, banyak generasi muda yang enggan dan justru malah merasa malu kalo memakai songkok hitam, karena menurut mereka, songkok hitam itu kuno, jadi jangan heran jika di jaman sekarang, pemakaian songkok hitam hanya sebatas oleh orang-orang tua, andaipun orang-orang muda mau memakainya, itupun tak seberapa jumlahnya, dan juga itu biasanya juga hanya dipakai pada sat acara-acara tertentu seperti pengajian, khitanan, lawatan, dan acara-acara tertentu lainnya.
Pejabat Negara Menggunakan Peci Hitam

Petran Menggunakan Peci Hitam

Paskibra Menggunakan Peci Hitam

PNS Menggunakan Peci Hitam

Sumber : 

2 komentar:

Samsoekoe on 9 November 2012 pukul 10.17 mengatakan...

salam kenal gan, ane baru di blog..
artikel yg sy bc dsini keren2 gan..
caoment back yaw,,, xixixii

toko BHS on 9 November 2012 pukul 19.21 mengatakan...

Salam kenal balik bro...

Posting Komentar

 
Kertas Artikel Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template