Sudah tidak asing lagi bagi kita
warga Indonesia tentang peci hitam. Saat ini peci hitam di Indonesia sudah
banyak di gunakan oleh berbagai kalangan, mulai dari petani, rakyat jelata
bahkan pejabat Negara, dan tak ketinggalan pulaanak yang sedang sunat (khitan)
juga mengunakan peci, serta orang
Tapi tau kah kita sebenarnya siapa
yang mempopulerkan peci hitam itu sendiri, sampai-sampai peci hitam menjadi
identitas warga Indonesia dimanapun berada….
Yang pertama menggunakan peci hitam
adalah Tjipto Mangunkusumo.
Pada tahun 1913 diadakan rapat SDAP
(Sociaal Democratische Arbeiders Partij) di Den Haag mengundang tiga politisi,
yaitu Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, dan Ki Hajar Dewantara. Ketiganya
menunjukkan identitas masing-masing. Ki Hajar menggunakan topi fez Turki
berwarna merah yang kala itu populer di kalangan nasionalis. Tjipto mengenakan
kopiah dari beludru hitam. Sedangkan Douwes Dekker tak memakai penutup kepala.
Peci ini sendiri diperkenalkan oleh pedagang Arab di sekitar Kepulauan Malaya sekitar abad ke-13. Orang Melayu di Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan selatan Thailand menyebutnya songkok namun kebanyakan orang Indonesia menyebutnya peci.
Baru tau ya,,,,,? admin juga baru
tau nie….. oke kita lanjutkan.
Lalu sejak kapan bung karno memakai peci
hitam?
Pada tahun 1921 diperkirakan bung
karno berumur 20 tahun. pada Saat itu beliau menghadiri rapat Jong Java di
Surabaya. Keraguan sempat menghampiri Bung Karno saat akan memasuki ruang rapat
pertama kalinya dengan peci hitam di kepala. Namun dengan menekadkan diri bahwa
dirinya adalah pemimpin bukan pengekor. Maka masuklah Bung Karno ke ruang
rapat.
Semua yang rapat terdiam sunyi, namun Bung Karno memecah kesunyian dengan mengatakan : ”…Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia". Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka.”.
Sejak saat itu Bung Karno selalu memakai peci ke manapun beliau pergi di depan publik kemudian menjadi simbol nasionalisme, yang mempengaruhi cara berpakaian kalangan intelektual, termasuk pemuda Kristen.
Semua yang rapat terdiam sunyi, namun Bung Karno memecah kesunyian dengan mengatakan : ”…Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia". Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka.”.
Sejak saat itu Bung Karno selalu memakai peci ke manapun beliau pergi di depan publik kemudian menjadi simbol nasionalisme, yang mempengaruhi cara berpakaian kalangan intelektual, termasuk pemuda Kristen.
Pada masa penjajahan Setelah bung
karno dibuang bertahun-tahun di Ende, Flores, lalu ke Bengkulu, lalu melanglang
keliling Sumatera dan akhirnya terdampar di Palembang. Pada saat berada di Sumatra
Bung karno melalukan perjalanan ke
beberapa propinsi dengan mengendarai dokar, hal itu dikerenakan agar bebas dari
gangguan dari tentara Jepang, yang sedang menderita kekalahan oleh pihak
Sekutu.
Dari Bengkulu melalui jalan darat
menuju kota Painan (kota pesisir kearah tenggara Padang), lalu ke Bukittingi
dan berkeliling ke Payakumbuh dan akhirnya menemui sahabatnya, yang juga
memimpin sebuah pesantren terkenal, Darul Funun al Abbasiyah, di desa Padang
Japang, Guguk, Kabupaten Lima Puluh Koto, Sumatera Barat.
Kala itu Soekarno bukan siapa-siapa
dan belum menjadi presiden. “Kamu harus berhati-hati terhadap kaum komunis dan
sekuler yang akan menghancurkan bangsa ini”, kata pemimpin pesantren sambil
menatap Soekarno yang sedang membetulkan sebuah peci hitam tinggi. Peci
tersebut memang baru saja diberikan oleh Syech Abbas Abdullah, pemimpin
pesantren itu ketika melihat penampilan Soekarno kurang oke dengan peci lamanya
yang lebih pendek.
Peci itu memang pas dan serasi
dengan visual wajah Soekarno. Pas margopas!.
Peci lamanya mana?... Di tinggal di
pesantren Syech Abbas Abdullah, yang juga menyarankan agar kelak Indonesia
merdeka dan Soekarno menjadi pemimpinnya, Indonesia harus berdasarkan
ketuhanan. “Peci ini kuberikan supaya kamu menyadari bahwa bangsa Indonesia ini
mayoritas umat Islam”, ujar sang syech kepada calon pemimpin bangsa terbesar
umat Islamnya di jagat. Lengkap dan pantas sudah penampilan baru
Soekarno.
Songkok Hitam Pasca Orde Lama
Memasuki masa Orde baru, Rezim Seoharto berusaha untuk menghapus berbagai sesuatu yang berbau orde lama, segala hal yang ada hubungannya dengan orde lama (terutama berhubungan dengan Seokarno). Namun ternyata, tradisi Songkok hitam yang jelas-jelas sangat identik dengan Seokarno tidak ikut dihapuskan, mungkin karena sudah terlalu memasyarakat (atau mungkin karena tak terlalu mengingatkan rakyat pada euforia orde lama). Sehingga di masa Orde barupun, “tradisi memakai songkok hitam” tetap lestari.
Songkok hitam, nasibmu kini
Sungguh sangat memprihatinkan, ternyata di jaman sekarang ini, banyak generasi muda yang enggan dan justru malah merasa malu kalo memakai songkok hitam, karena menurut mereka, songkok hitam itu kuno, jadi jangan heran jika di jaman sekarang, pemakaian songkok hitam hanya sebatas oleh orang-orang tua, andaipun orang-orang muda mau memakainya, itupun tak seberapa jumlahnya, dan juga itu biasanya juga hanya dipakai pada sat acara-acara tertentu seperti pengajian, khitanan, lawatan, dan acara-acara tertentu lainnya.
![]() |
| Pejabat Negara Menggunakan Peci Hitam |
![]() |
| Petran Menggunakan Peci Hitam |
![]() |
| Paskibra Menggunakan Peci Hitam |
| PNS Menggunakan Peci Hitam |
Sumber :



2 komentar:
salam kenal gan, ane baru di blog..
artikel yg sy bc dsini keren2 gan..
caoment back yaw,,, xixixii
Salam kenal balik bro...
Posting Komentar